Tidak terasa hari ini sudah tanggal 31 mei 2009, itu berarti jamur tiramku sudah dipanen selama 40 hari dari pertama panen yaitu tanggal 22 April 2009.
Kalau diperhatikan dari grafik data penjualan jamur tiramku, rata-rata penjualan perharinya adalah 18.52 kg diatas target yang aku tetapkan yaitu sebesar 17.42 Kg/hari dengan total penjualan 574.2 Kg/bulan diatas target yang aku tetapkan sebesar 540 kg/bulan.
Hasil penjualan tersebut aku dapat dengan membudidayakan jamur tiram sebanyak 3.000 polybag.
Senang rasanya melihat jamur tiramku tumbuh subur dan banyak bermunculan seperti bunga-bunga yang sedang mekar dan berwarna putih yang menghiasi setiap rak-rak yang jumlahnya tidak begitu banyak hanya berkisar 30 rak.
Sementara ini saya tidak begitu pusing dengan pemasaran hasil budidaya jamur tiram karena saya memasarkannya kepada : 1. Masyarakat disekitar tempat budidaya jamur tiramku. 2. Tukang sayur keliling. 3. Buruh pabrik yang tinggal disekitar tempat budidaya jamur tiramku ini, karena sambil berangkat mereka membawa beberapa kilo untuk dijual ditempat dimana mereka bekerja. 4. Memberikan harga diskon jika mereka membeli sampai dengan 10 kg.
Hasil panen jamur tiram yang sedang saya budidayakan ini masih sangat kecil karena masih belum dapat memenuhi kebutuhan untuk
masyarakat disekitar. Menurut perhitungan saya kapasitas produksi jamur tiramku ini hanya berkiran 450-500 kg per bulan jadi
kurang lebih hanya 15-20 Kg perhari.
Untuk sementara ini saya masih dalam tahap pembelajaran usaha budidaya jamur tiram tetapi yang terpenting bagi saya adalah saya sudah dapat membantu orang yang membutuhkan pekerjaan dengan memberikan sedikit imbalan jasa.
Ya, lumayanlah untuk menambah uang dapur sehari-hari.
Tanggal 22 April 2009, panen perdana jamur tiram ku. Meskipun hasil panen jamur tiram masih sedikit tetapi berat jamur tiram dari satu polybag menghasil berat sebanyak 2 ons.
Panen perdana jamur tiramku ini menghasilkan panen sebanyak 3,5 kg.
Katanya nih, bibit jamur tiramku adalah bibit jamur tiram super sehingga jamur tiram yang dihasilkan cukup besar.
Akhirnya setelah menunggu selama +/- 40 hari waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Tanggal 19 April 2009 jamur tiramku yg pertama mulai ditumbuhi bakal jamur. Sambil iseng-iseng aku mulai sibuk menghitung dan memperhatikan polybag jamur tiram satu per satu untuk melihat dan mengukur seberapa banyak jamur tiram ku akan dapat dipanen perdana.
Senang rasanya melihat polybag-polybag jamur tiramku sudah mulai ditumbuhi oleh bakal jamur tiram yang masih kecil-kecil, kelihatan lucu sekali.
Bibit jamur tiram yang aku beli tanggal 15 maret 2009 sekarang sudah berumur 4 minggu dan pertumbuhan miselium sudah mencapai kurang lebih 90 % sehingga sudah waktunya disusun kedalam rak-rak jamur. Mengapa disini saya katakan disusun karena teknik budidaya jamur tiram yang saya gunakan ini yaitu posisi jamur tiram dengan posisi tidur.
Ada beberapa alasan saya menggunakan teknik budidaya seperti ini :
Dengan cara menyusun tidur lebih mudah teknik disaat memanen jamur tiram ini.
Jika terjadi kumbung bocor karena atap terbuat dari rumbia daun nipah maka polybag yang sudah berisi miselium jamur tiram akan terhindar dari kebocoran tersebut.
Rak yang saya pergunakan untuk budidaya jamur tiram menggunakan ukuran panjang 1,5 m dan tinggi 2 m dan dapat diisi bibit jamur dengan kapasitas 133 bibit jamur.
Rumah jamur tiramku yang mulai dibangun awal maret 2009 sudah selesai berikut dengan rak-rak untuk tempat jamur tiram dan siap dihuni oleh bibit-bibit jamur tiramku setelah sebelumnya dilakukan proses sterilisasi terlebih dahulu supaya tidak ada hama atau parasit yang dapat mengganggu pertumbuhan misselim jamur tiram.
Tanggal 15 Maret 2009, datang 3000 polybag bibit jamur tiramku. Sibuknya hari itu karena untuk menurunkan 3.000 polybag dari truk ke rumah jamur saya dibantu oleh beberapa orang tenaga lepas.
Bibit jamur tiram yang saya beli dari petani jamur didaerah jawa ini masih dalam kondisi coklat dan belum ditumbuhi oleh miselium sama sekali sehingga masih memerlukan waktu kurang lebih 30-40 hari supaya dapat ditumbuhi miselium. Pada proses ini dinamakan kalau tidak salah proses inkubasi dimana cahaya tidak boleh banyak diserap didalam ruangan atau ruangan harus gelap atau kurang lebih cahaya yang boleh masuk hanya berkisar 10 %.
Saya dan teman saya adalah seorang karyawan disalah satu perusahaan swasta dijakarta sehingga tidak ada waktu untuk memelihara dan merawat jamur tiram.
Mengingat didaerah tempat kami membudidayakan jamur tiram ini banyak orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap maka tidak sulit bagi saya untuk mencari orang yang mau diajak bekerja sama untuk merawat, memelihara dan memasarkannya dengan menjanjikan imbalan atau upah jika sudah panen nanti.
Itung-itung membantu program pemerintah didalam mengurangi pengangguran dan membuka lapangan kerja kepada masyarakat disekitar tempat budidaya jamur tiramku ini, karena menurut saya kedepannya masih akan banyak terdapat lapangan kerja yang akan diperlukan didalam mengembangkan usaha budidaya jamur tiramku ini seperti tenaga kerja marketing atau pemasaran jamur tiram atau tenaga kerja produksi untuk pembuatan bibit jamur tiram atau tenaga kerja membuat makanan olah (camilan) yang terbuat dari jamur dan jika masih terus berkembang cita-citaku ingin membuka usaha rumah makan yang menyajikan makanan khas yang terbuat dari jamur.
Ah ... itu baru hanya sebatas mimpi, sekarang ini aku baru memulai dengan loncatan-loncatan kecil terlebih dahulu yaitu dengan cara membudidayakan jamur tiram.
Terinspirasi dari cerita teman sekantor ku mengenai budidaya jamur tiram, sewaktu kami bertemu ketika dia sedang bertugas dibanjarmasin. Dia bercerita banyak mengenai usahanya didalam membudidayakan jamur tiram dijakarta, tepatnya didaerah tangerang kemudian dia mengundang saya untuk berkunjung ketempat budidaya jamur tiram miliknya.
Awal bulan Februari 2009, saya dan teman saya (octo) jalan-jalan ke kumbung tempat budidaya jamur tiram teman sekantor saya yang menurut ceritanya sudah berhasil didalam membudidayakan jamur tiram bersama teman-teman dikomplek perumahannya didaerah tangerang.
Setelah berkeliling melihat-lihat saung pak goro dan mendapat penjelasan secara mendetail mengenai cara budidaya serta pemasaran jamur tiram, saya dan octo tertarik untuk ikut membudidayakan jamur tiram didaerah kita.
Adapun alasan saya tertarik untuk membudidayakan Jamur Tiram adalah:
1. Memanfaatkan sedikit pekarangan yang tidak begitu luas ditempat saya.
2. Bangunan untuk budidaya jamur tiram dapat dibuat sederhana hanya berbentuk gubuk yang atapnya ditutupi dengan jerami dan dindingnya oleh bilik bambu.
3. Mudah teknik membudidayakannya.
4. Membuka lapangan kerja dan peluang usaha untuk masyarakat sekitar.
Setelah memperhitungkan biaya-biaya yang akan kami keluarkan untuk usaha budidaya jamur tiram termasuk biaya untuk membayar orang yang akan merawat rumah jamur, kami mulai membangun kumbung dengan luas 8 x 3 m2 untuk kapasitas 3000 polybag.
”Tidak akan berubah nasib seseorang jika orang tersebut tidak mau merubahnya”